Ulasan Makro Ekonomi 1Q25Slower Indonesia GDP 1Q25 as Trump’s Tariffs Bite

Stagnasi Pertumbuhan GDP Global – Perang Tarif Trump

  • IMF memangkas pertumbuhan GDP FY25 untuk global, negara maju dan negara berkembang sebesar -0,5%, masing-masing menjadi 2,8% YoY, 1,4% YoY dan 3,7% YoY. Pemangkasan GDP global FY25 disebabkan oleh penetapan tarif Trump atas 182 negara dengan tarif tertinggi ke China 145%. IMF menyatakan sistem ekonomi global yang berjalan 80 tahun sedang direset.
  • Efek negatif perang tarif paling parah bagi negara maju dialami oleh AS, dimana GDP AS FY25 melemah ke 1,8% YoY (-0,9%), sementara Mexico sebagai negara berkembang yang paling terdampak, GDP FY25 menjadi -0,3% YoY (-1,7%), diikuti oleh GDP China FY25 tumbuh hanya 4,0% YoY (-0,6%) v. FY24 5,0% YoY.
  • Dalam skenario terburuk, GDP global FY25 berpeluang turun ke 2% (probabilita 30%), sebelum akhirnya membaik pada FY26 kembali ke level 3,0% karena tarif sebagai alat negosiasi dan berefek sementara ke inflasi (one-off increase of inflation).

GDP Global Cenderung Melemah

Global Manufacturing PMI Kembali Terkontraksi

Skenario Terburuk: EU & Asia Paling Terdampak

  • Pada “Liberation Day” 2 Apr’25, Trump mengenakan reciprocal tariff untuk Jepang 24%, Uni Eropa 20%, China 34% dan negara lainnya sebesar 10% yang berlaku per 5 Apr’25, namun ditangguhkan selama 3 bulan sehingga efektif hanya 10%, mengembalikan stabilitas pasar yang sebelumnya mengalami selloff, bahkan IHSG terjadi 2x circuit breaker.
  • Perang tarif disebabkan oleh melabarnya defisit perdangan AS FY24 ke 1,21 T v. FY23 1,06 T (+13,96% YoY). Efek negatif perang tarif terhadap AS minimum mengingat 70% GDP dari Konsumsi v. perdagangan 24,5%. Efek tarif terburuk justru dialami oleh negara Asia dan Uni Eropa yang dikenakan tarif >25% dan bobot perdagangan > 50% GDP.

Tariff Effect: Growth & Inflation

  • Perang tarif AS yang seharusnya ditujukan pada China, Mexico dan Canada, justru berdampak signifikan pada negara ASIA yang pertumbuhan GDP nya direvisi melambat signifikan (Thailand -1,1%, Korea Selatan -1,0 dan Filipina -0,6%), serta Eropa (Jerman -0,3% dan Italia 0,3%).
  • Perang dagang juga berdampak pada naiknya Inflasi global, Inflasi AS FY25 diprediksi 3%, diatas target 2%.
  • IMF memprediksi Indonesia relatif stabil, dimana GDP FY25 direvisi hanya -0,3% serta Inflasi FY25 1,7% YoY.

List Tarif Impor AS – Trump (silahkan download)

GDP AS 1Q25: Efek Negatif Awal Perang Tarif

  • Efek tarif Trump langsung berdampak pada penurunan GDP AS 1Q25 ke 2,0% YoY v. 4Q25 2,5% YoY. Penurunan GDP AS berasal dari Net Ekspor 1Q25 yang berkontribusi -4,83% v. 4Q24 0,26%, impor naik signifikan akibat front loading stok barang sebelum tarif efektif. Selain itu, belanja pemerintah 1Q25 juga berkontribusi negatif 0,25% YoY v. 4Q25 0,52%.
  • Aksi front loading disebabkan ketakutan pengusaha atas kenaikan tarif AS Apr’25 14,5% atau level tertinggi sejak tahun 1972 sehingga menyebabkan kontribusi negatif Net Ekspor terhadap GDP terbesar sejak 1947.

Tariff Mendorong Inflasi & Pengangguran AS

  • Laju inflasi AS Mar’25 turun ke 2,4% YoY v. Feb’24 2,8% YoY, penurunan Inflasi diprediksi berbalik pada 2H25 bersamaan naiknya PPI China, efek dari tarif Trump sehingga Inflasi FY25 naik ke 3,0% YoY. Inflasi juga menyebabkan sentiment konsumen turun.
  • Selain Inflasi, Tarif diprediksi mendorong Tingkat pengagguran AS dari Apr’25 4,2% ke FY25 4,5%. Hal ini, terindikasi dari proyeksi University of Michigan unemployment rate Mar’25 naik ke 5,5% vs. Feb 5,4%.

Kenaikan Inflasi & Melebarnya inverted Yield Curve

  • Inflasi AS 1Q25 yang turun ke 2,4% v. 4Q25 2,9%, diprediksi kembali naik memasuki 2H25 menuju FY25 3%. Tren tersebut juga terjadi di negara maju lainnya sehingga pemangkasan suku bunga bank sentral diprediksi dibawah ekspektasi pasar.
  • Inverted yield curve juga melebar pasca tarif akibat kenaikan ekspektasi inflasi, sekalipun harga minyak global FY25 diprediksi turun ke USD 65/barrel v. FY24 USD 81/barrel akibat penurunan pertumbuhan GDP global dan kenaikan produksi OPEC. Melebarnya inverted yield curve sejalan dengan naiknya probabilita resesi AS Mei’25 ke 51,82% v. Apr’25 50,04%.

“Gold” Is The Real Safe Haven Now, Dollar Falls

  • Pasca tarif, pasar khawatir kenaikan inflasi dapat memicu resesi global sehingga pasar saham obligasi rontok. Indeks S&P terkoreksi 20,29% serta kenaikan yield UST 10Yr ke 4,5%, sebelum akhirnya rebound
    pasca penundaan tarif selam 3 bulan, efektif 10%.
  • Turunnya pasar saham dan obligasi AS serta isu pemecatan Powell oleh Trump, seiring desakan pemangkasan FFR sesegera mungkin menyebabkan ketidakpercayaan investor atas dollar AS sebagai
    safe haven. Investor beralih ke Gold yang naik ke level all time high USD3.400/once, bahkan berpeluang naik ke USD 4.000/once (scenario terburuk perang tarif).

FOMC: Maksimum 2x Rate Cut 2025 Post Tarif Trump

  •  Turunnya tingkat inflasi global membuka ruang bank sentral untuk memangkas suku bunga, dimana 6 anggota G7 diprediksi menurunkan suku bunga dan paling banyak Rusia sebesar 700 bps v. FED 100 bps hingga 2026. Hanya BoJ yang menaikkan tingkat suku bunga sebanyak 75 bps hingga akhir 2016.
  • Potensi kenaikan inflasi akibat reciprocal tariff AS ke China 145% dan global 10%, diprediksi menurunkan pelonggaran FFR dari proyeksi awal saat ini sebanyak 3x atau 75bps menjadi maksimum 2x atau 50 bps sepanjang 2025 v. FY24 -100 bps.

Pengetatan Likuiditas – Balance Sheet Bank Sentral Turun

  • Gap balance sheet antara FED, ECB dan PBOC menurun, per 1Q25 balance sheet FED sebesar USD 6,75 T, ECB USD 6,78 T, sementara PBOC USD 6,27 T. PBOC sulit menurunkan balance sheet seiring stimulus agar GDP tetap 5% YoY. Sementara, FED FOMC Mar’25 menurunkan penjualan US Treasury dari USD 25 M ke USD 5M, serta menjaga penjulaan MBS USD 35 M/bulan.
  • Bank sentral global terus menjual asset, balance sheet 1Q25 turun 4,62% YoY menjadi USD 25,20 T v. Des’23 USD 27,68 T. Sepanjang 2024, ECB dan FED menjadi bank sentral yang paling banyak menjual asset sebesar USD 1,1 T dan USD 0,84 T.

Highlight

Pertumbuhan GDP Indonesia 1Q25 Dibawah 5%

  • GDP Indonesia 1Q25 tumbuh hanya 4,87%YoY v. 4Q24 5,02% YoY, jauh dibawah konsensus 4,91% YoY maupun proyeksi Menko Perekonomian dan Kemenkeu 5%, serta terendah sejak 3Q21. Perlambatan GDP terutama disebabkan oleh turunnya Pengeluaran Pemerintah 1Q25 diikuti oleh melemahnya Konsumsi RT dan Investasi.
  • Pengeluaran Pemerintah 1Q25 terkontraksi 1,38% YoY v. 4Q24 4,17% YoY, akibat efisiensi anggaran, alokasi inject Danantara serta rendahnya realisasi MBG. Menko Perekonomian berjanji mempercepat realisasi MBG dan stimulus fiskal lainnya.
  • Konsumsi RT 1Q25 tumbuh 4,89% YoY v. 4Q24 4,98% YoY, tumbuh dibawah 5% selama 6 kuartal berturut-turut. Perlambatan Konsumsi RT terjadi meski Idul Fitri, tarif listrik 50%, subsidi angkutan udara serta Inflasi rendah. Katalis utamanya non discretionary goods, terutama makanan & transportasi. Terindikasi dari pemudik -24% akibat PHK dan penurunan IKK.
  • Investasi 1Q25 tumbuh 2,12% YoY v. 4Q24 5,03% YoY, perlambatan Investasi terjadi karena investor wait and see tarif Trump yang berdampak pada permintaan komoditas dan barang domestik. Sebaliknya, Net Ekspor justru membaik karena pengusaha front loading sejak 3Q24 sehingga efek negatif penurunan ekspor akibat koreksi harga komoditas berkurang. Pertumbuhan GDP Indonesia 1Q25 Dibawah 5%
    15

Hanya 2 Sektor GDP Tumbuh Positif

  • Target pertumbuhan GDP Prabowo sebesar 8% dalam 5 tahun mendatang semakin berat pasca tarif Trump. Pertumbuhan GDP Indonesia FY25 bisa menyentuh 4,5% (dibawah proyeksi IMF 4,65%), akibat gejolak global yang berdampak pada turunnya harga komoditas, ditambah penurunan daya beli masyarakat, serta hilangnya peluang investasi jumbo asing.
  • Berdasarkan lapangan usaha, hanya sektor Pertanian 1Q25 tumbuh 10,52% YoY v. 4Q24 0,71% YoY serta sektor Jasa 1Q25 stabil 6,01% YoY v. 4Q24 5,36% YoY. Sementara, sektor lainnya melambat, diantaranya Pertambangan 1Q25 -1,23% YoY, Konstruksi 1Q25 2,18% YoY, Manufaktur 1Q25 4,55% YoY (bobot GDP 3,23%). Meki, sektor Jasa stabil namun penyumbang pengangguran terbesar, terutama hotel serta F&B, BPS mencatat occupancy rate hotel 33,56% v. Des’24 52,63%.

Program Andalan Prabowo & Efisiensi APBN

Struktur APBN’25 & Realisasi Mar’25

  • APBN Mar’25 mencatat defisit IDR -104,2 T v. Mar’24 IDR 8,1 T atau defisit APBN Mar’25 -0,43% v. Mar’24 0,04% GDP. Hal ini terjadi karena penurunan Penerimaan Negara sebesar -16,76% YoY menjadi IDR 516,1 T sementara Belanja Negara Mar’25 stabil 1,37% YoY menjadi IDR 620,3 T. Pelebaran tersebut mendorong kekhawatiran APBN’25 pasar bahwa defisit APBN’25 mendekati ambang batas 3% GDP dan bahaya credit rating downgrade yang memicu capital outflow asing.

Defisit APBN’25 Diprediksi 2,9%

  • Target defisit APBN’25 sebesar 2,53% GDP diprediksi akan melebar karena penetapan target Pendapatan Negara APBN’25 yang terlalu ambisius yaitu diatas IDR 3.000 T (+7,23% YoY), ditengah ketidakpastian perekonomian global. Memanasnya perang tarif diprediksi menekan harga komoditas sehingga target Pendapatan Negara sulit tercapai.
  • Faktor pelebaran defisit APBN adalah naiknya beban utang dan pembayaran bunga utang (debt service ratio) dari belanja yang memenuhi program populis (tidak produktif), yaitu: SBY (Subsidi), Jokowi (Bansos), dan Prabowo (Belanja Lainnya).
  • Belanja Lainnya 2020-2023:
    1) Penanganan COVID-19,
    2) Kartu Pra-Kerja,
    3) Cadangan Beras,
    4) Bantuan Presiden2024: Kompensasi BBM & Kartu Pra-Kerja, Alokasi Bansos EL Nino.2025:
    1) Penanggulangan bencana,
    2) Antisipasi risiko fiskal,
    3) Pasokan pangan,
    4) Kegiatan mendesak,
    5) BBM,
    6) MBG

Konsumsi RT Terus Melemah

  • Rendahnya daya beli tercermin dari penjualan ritel Mar’24 0,55% YoY v. Feb’25 2,06% YoY, serta naiknya Inflasi Mar’25 ke 1,95% YoY v. Feb’25 1,03% YoY, pasca berakhirnya diskon listrik 50% Jan’25-Feb’25. Kenaikan Inflasi Inti Mar’25 ke 2,50% YoY v. Feb’25 2,48% YoY juga bersifat semu karena adanya kenaikan emas. Inflasi FY25 diprediksi 2,0% v. FY24 1,57%
  • Naiknya Inflasi dan pengangguran bersamaan dengan turunnya daya beli dan risiko global menyebabkan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) turun 3 bulan berturut-turut. Menjadi alasan sepinya arus mudik dan belanja saat Idul Fitri.

Hanya Kelas Bawah Yang Stabil

  • Penurunan daya beli terjadi pasa kelas menengah dan menengah keatas, hanya kelas bawah yang daya belinya stabil karena ditopang bantuan sosial (Bansos)
  • Turunnya daya beli Masyarakat terjadi karena kenaikan konsumsi selama Ramadhan serta kenaikan cicilan pinjaman efek dari PHK, minimnya kenaikan upah serta tingkat suku bunga tinggi.

Pelebaran CAD Seiring Perang Tarif AS

  • Neraca perdagangan Mar’25 mencatat surplus sebesar USD 4,33 M, merupakan surplus 62 bulan berturut-turut, rekor tertinggi Apr’22 USD 7,56 M. Total surplus neraca perdagangan 3M25 sebesar USD 10,94 M v. 4M24 USD 7,41 M. Adanya tarif impor ke AS 10%-32% serta kenaikan impor dari AS sebagai alat negosiasi diprediksi akan menekan surplus perdagangan sehingga mendorong defisit neraca berjalan (CAD) FY25 ke -1,5% v. FY24 0,63% v. FY23 0,15% GDP.
  • China dan AS masih menjadi negara tujuan ekspor Indonesia dengan bobot masing-masing sebesar 23,84% dan 12,06%, meski demikian pertumbuhan ekspor AS Mar’25 37,49% YoY lebih tinggi dibandingkan China 3,29% YoY

Negosiasi Tarif AS – Penentu Trade Surplus Indonesia

Momentum Investasi Masih Meningkat

  • Investasi domestik cenderung meningkat seiring dengan tingginya pertumbuhan kredit perbankan Feb’25 sebesar 10,30% YoY, masih dalam rentang target OJK FY25 9%-11%, namun dibawah target BI 11%-13%. Kredit modal kerja Feb’24 tumbuh 7,66% YoY, dibawah Kredit Investasi 14,62% YoY maupun Kredit Konsumsi 10,31% YoY karena wait and see pengusaha.
  • Risiko Investasi: pelebaran twin deficit (apbn dan cad), efek pelemahan GDP dan depresiasi rupiah akibat tarif Trump.

Investasi (FDI) Berpeluang Menurun

  • Investasi langsung (FDI) 4Q24 mencapai IDR 245,81 T v.s 3Q24 IDR 232,60 T atau tumbuh 33,30% YoY v. 3Q24 18,55% YoY, merupakan pertumbuhan double digit 13 bulan berturut-turut.
  • Investasi langsung (FDI) 4Q24 menunjukkan perkembangan signifikan karena pertumbuhan FDI tidak hanya terpusat pada sektor primer 4Q24 24,87% YoY v. 3Q24 9,36% YoY, namun juga sektor sekunder 4Q24 37,03% YoY v. 3Q24 6,17% YoY, terutama pada industry kertas 7,73% YoY, logam dasar (nickel) 2,11% YoY dan makanan 6,10% YoY

Peluang Pemangkasan BI 7DRRR

  • BI Kembali menahan BI 7DRRR Apr’25 di 5,75%, pasca pemangkasan Des’24 sebesar 25 bps. BI berpeluang kembali memangkas suku bunga sebanyak 2x atau 50 bps hingga akhir 2025 guna mendorong pertumbuhan GDP serta adanya peluang dari rendahnya Inflasi FY25 hanya 2,0% YoY serta depresiasi dollar AS dari Mei’25 di level 101, seiring pemangkasan FFR 2H25 sebanyak 50 bps.
  • Dalam skenario Indonesia mencapai kesepakatan dagang AS seperti Inggris, Rupiah akan terapresiasi serta berkurangnya spread Indo 10Yr v. UST 10Yr Mei’25 dari 264 bps v. rata-rata 10 tahun 426 bps, seiring aktifnya BI menjaga yield INDO 10Yr melalui intervensi pasar sekunder maupun SRBI. Asumsi yield UST 10Yr FY24F 4,25% – 4,50% dan spread UST 10Yr
    v. INDO 10Yr 240 – 260 bps,
    yield INDO 10Yr FY25 antara 6,85%-7,15%.

Never invest in any ideas you can’t illustrate with a crayon
– Peter Lynch –

DISCLAIMER

This report has been prepared by PT. Lautandhana INVESTMENT on behalf of itself and its affiliated companies and is provided for information purposes only. Under no circumstances is it to be used or considered as an offer to sell, or a solicitation of any offer to buy. This report has been produced independently and the forecasts, opinions, and expectations contained herein are entirely those of PT. Lautandhana INVESTMENT.

While all reasonable care has been taken to ensure that information contained herein is not untrue or misleading at the time of publication, PT. Lautandhana INVESTMENT makes no representation as to its accuracy or completeness and it should not be relied upon as such. This report is provided solely for the information of clients of PT. Lautandhana INVESTMENT who are expected to make their own investment decisions without reliance on this report. Neither PT Lautandhana INVESTMENT nor any officer or employee of PT Lautandhana INVESTMENT accept any liability whatsoever for any direct or consequential loss arising from any use of this report or its contents. PT Lautandhana INVESTMENT and/or persons connected with it may have acted upon or used the information herein contained, or the research or analysis on which it is based, before publication.